Selasa, 13 Oktober 2026

Sawah Mau Jadi Markas Tentara? Petani Sukabumi Jangan Sampai Cuma Kebagian Debu Pembangunan

Sawah Mau Jadi Markas Tentara? Petani Sukabumi Jangan Sampai Cuma Kebagian Debu Pembangunan

SUKABUMI – Rencana pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 345/Maung Sancang di kawasan Baru Ajol, Desa Sudajaya Girang, Kabupaten Sukabumi, menuai sorotan. Pasalnya, lahan yang direncanakan untuk pembangunan tersebut selama ini digarap oleh masyarakat untuk kegiatan pertanian. Rencana ini pun memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan mata pencaharian petani dan kepastian penggunaan lahan. Ironisnya, pembangunan yang membawa nama teritorial dan pembangunan justru memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana nasib warga yang selama ini menggantungkan hidup dari tanah tersebut?

Sorotan terhadap rencana itu menguat setelah petani dan kelompok pemerhati masyarakat meminta pemerintah mempertimbangkan dampak sosial serta ekonomi sebelum menentukan penggunaan lahan. Dalam pemberitaan Sukabumi Update pada 9 Oktober 2026, Forum Aktivis Sukabumi untuk Rakyat menyoroti keberadaan ratusan keluarga yang disebut menggantungkan penghasilan dari lahan garapan tersebut. Mereka meminta pemerintah mencari solusi yang tidak merugikan masyarakat kecil, termasuk mempertimbangkan lokasi alternatif apabila memungkinkan. Jadi, persoalannya bukan sekadar lahan akan digunakan untuk apa, melainkan juga bagaimana nasib orang-orang yang selama ini mencari nafkah di sana. Sumber: Sukabumi Update, 9 Oktober 2026.

Di sisi lain, pihak TNI menyatakan persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui verifikasi status hukum lahan, komunikasi, dan koordinasi dengan instansi yang berwenang. Komandan Kodim 0607/Kota Sukabumi, Letkol Inf Beny Syafri, menegaskan bahwa penentuan kepemilikan lahan bukan kewenangan Kodim semata dan perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait, termasuk PTPN dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ia juga menyatakan terbuka terhadap dialog dengan masyarakat. Artinya, status serta mekanisme penggunaan lahan masih membutuhkan penjelasan yang jelas. Karena itu, belum tepat menyimpulkan bahwa lahan tersebut telah dirampas atau bahwa seluruh petani pasti akan kehilangan mata pencaharian. Sumber: Sukabumi Update, 9 Oktober 2026, dan Sukabumi Ku, 10 Oktober 2026.

Pada akhirnya, pembangunan fasilitas pertahanan dan perlindungan mata pencaharian warga seharusnya tidak diposisikan sebagai dua kepentingan yang harus saling mengorbankan. Jika proyek tetap dilanjutkan, pemerintah perlu memastikan status hukum lahan, mendengar aspirasi petani, serta menjelaskan dampak sosial dan ekonomi secara terbuka. Sebab, akan terdengar ironis jika sebuah proyek bernama Batalyon Teritorial Pembangunan justru meninggalkan persoalan bagi warga yang selama ini mengolah tanah untuk bertahan hidup. Pembangunan boleh berjalan, tetapi kejelasan hak, dialog, dan nasib petani jangan sampai hanya menjadi catatan kaki dalam rencana besar negara.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/sawah-mau-jadi-markas-tentara-petani-sukabumi-jangan-sampai-cuma-kebagian-debu-pembangunan

Misteri Kerangka Bocah Perempuan di Cianjur: Leher Terlilit Tambang, Identitas Masih Jadi Teka-Teki

Misteri Kerangka Bocah Perempuan di Cianjur: Leher Terlilit Tambang, Identitas Masih Jadi Teka-Teki

CIANJUR – Penemuan jasad anak perempuan yang kondisinya telah menjadi kerangka di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyisakan misteri. Polisi menemukan lilitan tali tambang di bagian leher korban, sementara identitas serta penyebab pasti kematiannya masih dalam penyelidikan.

Jasad tersebut ditemukan warga di Desa Cibaregbeg pada Minggu, 11 Oktober 2026. Mengutip keterangan kepolisian yang diberitakan ANTARA dan Liputan6.com, korban diperkirakan berusia sekitar 8–10 tahun dengan tinggi kerangka kurang lebih 94 sentimeter. Saat ditemukan, korban masih mengenakan kaus lengan panjang berwarna biru atau hijau toska, sebagaimana disebutkan dalam laporan media. Kondisi jasad yang telah membusuk membuat proses identifikasi menjadi perhatian utama penyidik.

Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Bagus Panuntun, menyampaikan bahwa pemeriksaan luar menemukan lilitan tali pada bagian leher korban. Namun, temuan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian. Pemeriksaan awal juga belum menemukan tanda penganiayaan yang dapat memastikan dugaan tindak kekerasan. Polisi masih menunggu hasil autopsi dari RSUD Sayang Cianjur untuk memperoleh informasi medis yang lebih jelas sekaligus membantu mengungkap identitas korban.

Hingga laporan terbaru pada 14 Oktober 2026, polisi masih mendalami kronologi penemuan dan mengumpulkan informasi untuk mengungkap peristiwa tersebut. Masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri tersebut diimbau menghubungi Polres Cianjur atau pihak RSUD Sayang Cianjur guna membantu proses identifikasi. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap keselamatan anak, sekaligus perlunya menunggu hasil penyelidikan resmi agar tidak muncul spekulasi mengenai penyebab kematian maupun pihak yang bertanggung jawab.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/misteri-kerangka-bocah-perempuan-di-cianjur-leher-terlilit-tambang-identitas-masih-jadi-teka-teki

Ruben dan Sarwendah Belum Habis Jadi Sorotan, Nama Betrand Peto Kini Terseret Kasus Hukum

Ruben dan Sarwendah Belum Habis Jadi Sorotan, Nama Betrand Peto Kini Terseret Kasus Hukum

JAKARTA – Dunia hiburan kembali diramaikan kabar yang menyeret keluarga Ruben Onsu. Kali ini, nama Betrand Peto Putra Onsu atau Onyo menjadi perhatian setelah dirinya dilaporkan terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual. Seolah belum cukup menjadi bahan perbincangan publik, persoalan baru ini membuat nama keluarga tersebut kembali ramai dibicarakan. Namun, di balik judul yang mengundang rasa penasaran, ada proses hukum yang harus dihormati dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan komentar warganet.

Kasus ini bermula dari laporan seorang perempuan berinisial ANW ke Polda Metro Jaya pada 12 September 2026. Berdasarkan pemberitaan, pelapor menduga mengalami pelecehan fisik di sebuah tempat hiburan malam di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti kepolisian dengan meminta keterangan dari pihak-pihak terkait. Hingga kini, dugaan tersebut belum menjadi putusan hukum yang menyatakan Betrand bersalah.

Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Betrand menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya selama kurang lebih delapan jam. Penyidik menggali kronologi kejadian dan meminta keterangannya sebagai terlapor. Melalui kuasa hukumnya, Betrand membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan menyatakan kooperatif mengikuti proses hukum. Polisi juga menyampaikan akan melakukan gelar perkara untuk mengevaluasi hasil penyelidikan dan menentukan langkah selanjutnya.

Di tengah ramainya komentar publik, satu hal yang perlu diingat: ramai dibicarakan bukan berarti terbukti bersalah. Publik boleh penasaran, tetapi jangan sampai rasa penasaran berubah menjadi vonis sebelum proses hukum selesai. Untuk saat ini, perkembangan kasus Betrand Peto masih menunggu penilaian penyidik terhadap keterangan dan bukti yang tersedia. Jadi, alih-alih buru-buru menyimpulkan, lebih baik menunggu fakta resmi—sebab di dunia nyata, perkara hukum bukan sekadar bahan drama untuk kolom komentar.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/ruben-dan-sarwendah-belum-habis-jadi-sorotan-nama-betrand-peto-kini-terseret-kasus-hukum

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Hutan Dibakar, Orangutan yang Menanggung Akibatnya: Novita Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Ironis, ketika manusia sibuk membicarakan pembangunan dan pemanfaatan lahan, satwa liar justru harus berjuang menyelamatkan diri dari habitatnya sendiri yang dilalap api. Novita, seekor orangutan betina berusia sekitar 3–4 tahun, menjadi salah satu korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Katune, Kalimantan Tengah. Ia ditemukan bertahan di atas pohon di tengah kepungan asap dan kawasan hutan yang terbakar. Alih-alih hidup tenang di habitat alaminya, Novita harus berjuang agar tetap hidup di tengah bencana yang mengancam rumahnya.

Novita dilaporkan terjebak sejak 25 September 2026 dan berhasil dievakuasi pada 26 September oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), personel TNI, dan masyarakat. Kondisinya saat ditemukan cukup memprihatinkan. Kedua telapak tangan dan telapak kakinya mengalami luka bakar, yang diduga terjadi ketika ia melintasi area yang sudah terbakar untuk mencari tempat berlindung. Tim penyelamat memberikan pertolongan darurat berupa oksigen dan cairan infus sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan BOS Nyaru Menteng untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Sumber: Yayasan BOS dan detikKalimantan.

Namun, berhasil lolos dari kobaran api ternyata bukan akhir dari penderitaan Novita. Dalam perkembangan yang diberitakan pada 12 Oktober 2026, empat ruas jari kaki Novita dilaporkan tidak dapat diselamatkan akibat kerusakan jaringan yang parah. Kondisinya mulai menunjukkan perkembangan, tetapi ia masih membutuhkan perawatan intensif. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada hutan yang hangus atau asap yang menyelimuti permukiman. Satwa yang kehilangan habitat juga menghadapi ancaman luka, gangguan pernapasan, hingga kematian. Bahkan, puluhan orangutan di pusat rehabilitasi BOS Nyaru Menteng dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut di tengah kabut asap. Sumber: detikKalimantan, 12 Oktober 2026.

Ironisnya, hutan sering disebut sebagai kekayaan alam yang harus dijaga, tetapi ketika api melahap habitatnya, makhluk yang tinggal di dalamnya justru harus membayar harga yang mahal. Novita tidak bisa menggelar konferensi pers, mengajukan protes, atau meminta pertanggungjawaban siapa pun. Ia hanya bisa bertahan hidup dan menunggu pertolongan. Tentu, tidak semua kebakaran dapat langsung dikaitkan dengan satu penyebab atau pihak tertentu. Namun, kejadian ini menegaskan pentingnya pencegahan karhutla, perlindungan habitat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal. Sebab, jika rumah satwa terus hilang, jangan heran bila suatu hari hutan hanya tinggal nama—sementara penghuninya menjadi korban yang terlambat kita sadari.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/hutan-dibakar-orangutan-yang-menanggung-akibatnya-novita-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki

Scroll Terus, Kapan Pintarnya? Kenalan dengan ACC Learning!

Scroll Terus, Kapan Pintarnya? Kenalan dengan ACC Learning!

Akuntansi sering dianggap sebagai bidang yang rumit karena identik dengan angka, jurnal, debit, kredit, hingga laporan keuangan. Padahal, memahami akuntansi merupakan keterampilan penting, baik bagi pelajar, mahasiswa, tenaga profesional, maupun pelaku usaha. Di tengah perkembangan teknologi digital, proses mempelajari akuntansi kini dapat didukung dengan pendekatan yang lebih praktis dan fleksibel.

Kemampuan memahami pencatatan transaksi, mengelola keuangan, serta menyusun laporan keuangan menjadi bekal yang berguna dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan. Dengan pemahaman akuntansi yang baik, seseorang dapat lebih mudah membaca kondisi keuangan, mengenali pemasukan dan pengeluaran, serta memahami bagaimana suatu usaha mengelola dan mengevaluasi keuangannya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, ACC Learning hadir sebagai platform pembelajaran yang berfokus pada bidang akuntansi. Melalui pemanfaatan teknologi digital, ACC Learning dapat menjadi sarana untuk mempelajari konsep dan pengetahuan akuntansi secara lebih mudah dijangkau. Platform ini relevan bagi pengguna yang ingin memperdalam pemahaman tentang dunia akuntansi, mulai dari konsep dasar hingga materi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran mereka.

Dengan ACC Learning, belajar akuntansi bisa menjadi langkah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tanpa harus langsung merasa gentar melihat deretan angka. Meski begitu, pemahaman yang kuat tetap membutuhkan latihan, ketelitian, dan konsistensi dalam belajar. Jadi, daripada langsung menyerah saat bertemu debit dan kredit, saatnya membangun pemahaman akuntansi secara bertahap bersama ACC Learning—karena angka memang harus dihitung, bukan ditakuti!


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/scroll-terus-kapan-pintarnya-kenalan-dengan-acc-learning