Selasa, 27 Oktober 2026

Mahasiswa Turun di Bundaran HI, Pemerintah Siap Mendengar atau Menghindar?

Mahasiswa Turun di Bundaran HI, Pemerintah Siap Mendengar atau Menghindar?

JAKARTA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Rabu, 28 Oktober 2026, bukan hanya soal mengenang perjuangan generasi terdahulu. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) menyerukan aksi bertajuk #IndonesiaSadar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, mulai pukul 14.00 WIB. Aksi ini menjadi panggung bagi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil untuk menyampaikan keresahan terhadap sejumlah persoalan yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian memadai.

Ada lima isu utama yang menjadi sorotan, yakni penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ketimpangan ekonomi, mahalnya biaya pendidikan, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta perlindungan kebebasan berpendapat. Mahasiswa juga menuntut agar penggunaan anggaran negara lebih berpihak kepada masyarakat. Kritiknya tajam: jangan sampai rakyat terus diminta bersabar, sementara persoalan yang menyentuh kehidupan sehari-hari tak kunjung menemukan jawaban yang memuaskan.

Aksi ini bukan muncul tanpa latar belakang. BEM UI dan elemen masyarakat sipil sebelumnya menggelar demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada 20 Oktober 2026. Dalam aksi lanjutan ini, mahasiswa dari sejumlah kampus, termasuk UGM, ITB, Undip, dan UB, disebut tengah dikoordinasikan untuk ikut bergabung. Meski begitu, jumlah peserta yang dipastikan hadir belum diumumkan secara pasti. Artinya, besarnya massa tidak perlu ditebak-tebak; yang patut diperhatikan adalah tuntutan dan bagaimana pemerintah meresponsnya.

Momentum Sumpah Pemuda pun menghadirkan pertanyaan yang tak nyaman untuk diabaikan: apa arti persatuan jika suara masyarakat sulit mendapat jawaban? Kritik di jalanan seharusnya tidak otomatis dianggap sebagai gangguan, tetapi menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik perlu dijaga lewat kebijakan yang bisa dirasakan manfaatnya. Pemerintah memiliki ruang untuk menjawab tuntutan melalui langkah konkret dan terbuka, sedangkan peserta aksi berkewajiban menjaga demonstrasi tetap damai. Sebab, Sumpah Pemuda bukan sekadar seremoni tahunan—dan pidato tentang masa depan tidak akan cukup jika persoalan hari ini terus dibiarkan menggantung.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/mahasiswa-turun-di-bundaran-hi-pemerintah-siap-mendengar-atau-menghindar

90% Internet RI Lewat Singapura, Kalau Diputus Kita Mau Ngapain?

90% Internet RI Lewat Singapura, Kalau Diputus Kita Mau Ngapain?

Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan besar soal kemandirian digital setelah pernyataan politikus Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, mengenai kemungkinan pemutusan jalur internet yang menghubungkan Indonesia dengan jaringan global menjadi sorotan. Isu ini mencuat pada Senin (26/10/2026) dan ramai diperbincangkan karena Indonesia diketahui masih sangat bergantung pada Singapura sebagai pusat lalu lintas data internasional. Meski terdengar mengkhawatirkan, hingga kini isu tersebut tidak berarti internet Indonesia benar-benar telah diputus.

Kekhawatiran publik bukan tanpa alasan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebelumnya mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen trafik internet internasional Indonesia bergantung pada Singapura. Negara tersebut menjadi salah satu pusat konektivitas digital Asia Tenggara, didukung jaringan kabel bawah laut, pusat data, dan koneksi ke berbagai jaringan global. Ketergantungan sebesar ini membuat jalur alternatif menjadi penting, sebab gangguan pada infrastruktur utama berpotensi memengaruhi konektivitas lintas negara.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mendorong diversifikasi jalur konektivitas melalui pengembangan kabel bawah laut dan jaringan darat agar akses internet tidak terlalu terpusat pada satu negara. Upaya ini bukan berarti Indonesia harus memutus hubungan digital dengan Singapura, melainkan membangun pilihan rute lain jika terjadi gangguan. Sebab, dampaknya bisa merembet pada layanan digital, komunikasi bisnis, transaksi daring, hingga akses ke sejumlah layanan internasional, bergantung pada jaringan dan layanan yang terdampak.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa internet bukan sekadar soal sinyal di ponsel, melainkan infrastruktur penting bagi kehidupan masyarakat dan ekonomi nasional. Ketergantungan pada jalur internasional tidak otomatis membuat Indonesia kehilangan kendali atas seluruh jaringan internetnya, tetapi konsentrasi rute tetap membawa risiko yang perlu diantisipasi. Kini, tantangannya adalah memperkuat infrastruktur digital nasional agar koneksi masyarakat tetap tangguh menghadapi gangguan, tanpa terjebak dalam kepanikan akibat pernyataan yang belum tentu menjadi kebijakan resmi.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/90-internet-ri-lewat-singapura-kalau-diputus-kita-mau-ngapain-1

90% Internet RI Lewat Singapura, Kalau Diputus Kita Mau Ngapain?

90% Internet RI Lewat Singapura, Kalau Diputus Kita Mau Ngapain?

Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan besar soal kemandirian digital setelah pernyataan politikus Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, mengenai kemungkinan pemutusan jalur internet yang menghubungkan Indonesia dengan jaringan global menjadi sorotan. Isu ini mencuat pada Senin (26/10/2026) dan ramai diperbincangkan karena Indonesia diketahui masih sangat bergantung pada Singapura sebagai pusat lalu lintas data internasional. Meski terdengar mengkhawatirkan, hingga kini isu tersebut tidak berarti internet Indonesia benar-benar telah diputus.

Kekhawatiran publik bukan tanpa alasan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebelumnya mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen trafik internet internasional Indonesia bergantung pada Singapura. Negara tersebut menjadi salah satu pusat konektivitas digital Asia Tenggara, didukung jaringan kabel bawah laut, pusat data, dan koneksi ke berbagai jaringan global. Ketergantungan sebesar ini membuat jalur alternatif menjadi penting, sebab gangguan pada infrastruktur utama berpotensi memengaruhi konektivitas lintas negara.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mendorong diversifikasi jalur konektivitas melalui pengembangan kabel bawah laut dan jaringan darat agar akses internet tidak terlalu terpusat pada satu negara. Upaya ini bukan berarti Indonesia harus memutus hubungan digital dengan Singapura, melainkan membangun pilihan rute lain jika terjadi gangguan. Sebab, dampaknya bisa merembet pada layanan digital, komunikasi bisnis, transaksi daring, hingga akses ke sejumlah layanan internasional, bergantung pada jaringan dan layanan yang terdampak.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa internet bukan sekadar soal sinyal di ponsel, melainkan infrastruktur penting bagi kehidupan masyarakat dan ekonomi nasional. Ketergantungan pada jalur internasional tidak otomatis membuat Indonesia kehilangan kendali atas seluruh jaringan internetnya, tetapi konsentrasi rute tetap membawa risiko yang perlu diantisipasi. Kini, tantangannya adalah memperkuat infrastruktur digital nasional agar koneksi masyarakat tetap tangguh menghadapi gangguan, tanpa terjebak dalam kepanikan akibat pernyataan yang belum tentu menjadi kebijakan resmi.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/90-internet-ri-lewat-singapura-kalau-diputus-kita-mau-ngapain

iPhone Duo Baru Seumur Jagung, Layar Malah Retak: Inovasi Mahal Kok Bikin Waswas?

iPhone Duo Baru Seumur Jagung, Layar Malah Retak: Inovasi Mahal Kok Bikin Waswas?

Peluncuran iPhone Duo, ponsel lipat pertama Apple, mulai diwarnai keluhan yang membuat calon pembeli bertanya-tanya. Sejumlah pengguna melaporkan layar bagian dalam perangkat tersebut retak atau mengalami gangguan berupa garis terang di sekitar lipatan tengah. Padahal, perangkat ini baru mulai diterima konsumen pada Oktober 2026. Masalah tersebut pun memunculkan pertanyaan besar: apakah ponsel premium dengan teknologi terbaru benar-benar siap menghadapi pemakaian sehari-hari?

Salah satu laporan datang dari pengguna yang mengaku layar iPhone Duo miliknya retak setelah digunakan dalam waktu singkat, bahkan sebelum perangkat dilipat sebanyak 20 kali. Sejumlah laporan lain juga menunjukkan kerusakan di area yang berdekatan dengan engsel. Kondisi ini memicu dugaan adanya persoalan pada mekanisme lipatan atau komponen layar. Namun, penyebab pasti kerusakan dan seberapa luas masalah tersebut masih belum diketahui, sehingga belum tepat menyimpulkan bahwa semua unit iPhone Duo mengalami cacat serupa.

Menanggapi keluhan tersebut, Apple mengakui adanya masalah layar pada sebagian kecil unit dan menyarankan pengguna yang terdampak menghubungi AppleCare untuk mendapatkan penggantian perangkat. Meski demikian, penyebab teknis kerusakan belum dijelaskan secara menyeluruh. Situasi ini menjadi perhatian karena layar dan engsel merupakan bagian utama dari ponsel lipat. Bagi konsumen, persoalannya bukan sekadar layar retak, tetapi juga soal ketahanan perangkat yang dibeli dengan harga premium.

Pada akhirnya, teknologi baru bukan hanya soal desain yang terlihat mewah atau fitur yang semakin canggih. Ketahanan dan kualitas produk juga menjadi bagian penting dari pengalaman pengguna. Apple kini menghadapi tantangan untuk menangani keluhan tersebut secara transparan dan memastikan konsumen memperoleh solusi yang sesuai. Bagi calon pembeli, kejadian ini bisa menjadi pengingat untuk tidak terburu-buru membeli perangkat hanya karena sedang ramai dibicarakan. Sebelum merogoh kocek dalam-dalam, pastikan pula informasi garansi, kebijakan penggantian, dan perkembangan masalahnya sudah jelas.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/iphone-duo-baru-seumur-jagung-layar-malah-retak-inovasi-mahal-kok-bikin-waswas

Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun Terungkap, Jasad Dibakar dan Digiling untuk Hilangkan Jejak

Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun Terungkap, Jasad Dibakar dan Digiling untuk Hilangkan Jejak

MADIUN, Jawa Timur — Kasus dugaan pembunuhan terhadap seorang ibu berinisial DH (30) dan anak laki-lakinya, AG (4), di Kota Madiun, Jawa Timur, menggemparkan publik. Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap pria berinisial DBM, yang diketahui merupakan suami siri DH, di Kabupaten Jombang pada Minggu malam, 25 Oktober 2026. Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan kehilangan kedua korban yang disampaikan keluarga ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026, setelah keduanya dilaporkan tidak dapat dihubungi sejak 20 September 2026.

Berdasarkan keterangan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, Kombes Pol. Roy Hutton Marulamrata Sihombing, pembunuhan diduga terjadi pada 20 September 2026. Penyidik menduga DH terlebih dahulu dibunuh di sebuah kamar Hotel Mataram Baru, Jalan Dr. Soetomo, Kota Madiun. Setelah itu, anak korban yang masih berusia empat tahun diduga turut dibunuh di dalam mobil. Polisi menyebut dugaan cara pembunuhan terhadap kedua korban adalah dengan mencekik. Meski demikian, kronologi lengkap peristiwa tersebut masih didalami melalui pemeriksaan tersangka dan pengumpulan bukti.

Fakta lain yang menjadi perhatian adalah dugaan upaya menghilangkan jejak setelah pembunuhan. Polisi mengungkap bahwa jasad kedua korban diduga dibawa ke area pekarangan rumah, kemudian dibakar, dipotong, dan dihancurkan menggunakan mesin penggilingan daging sebelum kembali dibakar. Penyidik juga melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut, termasuk hotel dan rumah di wilayah Kota Madiun. Sejumlah barang bukti telah diamankan, sementara pencarian sisa jasad dan pemeriksaan forensik masih dilakukan untuk memperkuat pembuktian.

Terkait motif, polisi menduga kasus ini dipicu persoalan rumah tangga dan dendam yang berkaitan dengan hubungan antara tersangka, istri sahnya, dan DH. Namun, motif tersebut masih merupakan dugaan awal penyidik dan belum dapat dianggap sebagai kesimpulan akhir. Penangkapan DBM menjadi perkembangan penting dalam pengungkapan kasus ini, tetapi penyidikan tetap diperlukan untuk memastikan rangkaian kejadian, bukti yang mendukung dugaan tindak pidana, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa informasi mengenai perkara pidana perlu merujuk pada keterangan resmi dan perkembangan penyidikan, bukan sekadar spekulasi yang beredar di media sosial.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/pembunuhan-ibu-dan-anak-di-madiun-terungkap-jasad-dibakar-dan-digiling-untuk-hilangkan-jejak